Lakuna di Tanah Arunika
Lakuna di Tanah Arunika
Sekelumit narasi di kala senja
Tentang nyanyian bisu tanpa suara
Terbungkus rapi dalam balutan rasa
Tanpa irama hanya lakuna
Hai Manusia..
Sudahkah mendengar tentang arunika?
Saat dimana matahari terbit dengan indahnya
Menjadi sama rasa dengan swastamita
Hitam yang menenggelamkan jingga
Gelap yang menafikan senja
Pudarnya tak serta merta mematikan raga
Redupnya cahaya tak jua mampu mengikis jiwa
Pekat matanya seakan bertanya
Mengapa sungguh kejam dunia?
Berulang kali hati telah patah
Berulang kali pikiran telah gundah
Namun asa tak kunjung ingin menyerah
Katanya, “Kita ini belum kalah”
Di pelupuk kota tua nan mulai memerah
Api terekam merasuk mata yang kian resah
Atau dakota-dakota yang berdarah-darah
Dan jutaan sumpah serapah
Dari serdadu-serdadu payah
Memborbardir bumi dengan murah
Di medan perang terangkai wasilah
Ujung jari mungil mengukir risalah
Jemu meracun walau tak sengaja bersalah
Hai, Manusia-manusia serakah!
Tak cukupkah permadani kami kau jajah
Tak puaskah bumi kami kau jarah
Dengarkan kami para pendusta!
Kami ini bukan pengabdi harta atau tahta
Kami hanya memuja yang berkuasa atas segala
Camkan ini para penggadai jiwa manusia!
Senjata kecilmu bukanlah apa-apa
Algojomu sia-sia belaka
Menangpun kau bukan siapa-siapa
Lagipula mana ada manusia yang tega
Rakus melahap bangkai saudaranya
Apalagi merasa paling digdaya
Lupa akan siapa yang mencipta
Lalu, sudahkah kini kau rasa bangga?
Sekelumit narasi di kala senja
Tentang nyanyian bisu tanpa suara
Terbungkus rapi dalam balutan rasa
Tanpa irama hanya lakuna
Hai Manusia..
Sudahkah mendengar tentang arunika?
Saat dimana matahari terbit dengan indahnya
Menjadi sama rasa dengan swastamita
Hitam yang menenggelamkan jingga
Gelap yang menafikan senja
Pudarnya tak serta merta mematikan raga
Redupnya cahaya tak jua mampu mengikis jiwa
Pekat matanya seakan bertanya
Mengapa sungguh kejam dunia?
Berulang kali hati telah patah
Berulang kali pikiran telah gundah
Namun asa tak kunjung ingin menyerah
Katanya, “Kita ini belum kalah”
Di pelupuk kota tua nan mulai memerah
Api terekam merasuk mata yang kian resah
Atau dakota-dakota yang berdarah-darah
Dan jutaan sumpah serapah
Dari serdadu-serdadu payah
Memborbardir bumi dengan murah
Di medan perang terangkai wasilah
Ujung jari mungil mengukir risalah
Jemu meracun walau tak sengaja bersalah
Hai, Manusia-manusia serakah!
Tak cukupkah permadani kami kau jajah
Tak puaskah bumi kami kau jarah
Dengarkan kami para pendusta!
Kami ini bukan pengabdi harta atau tahta
Kami hanya memuja yang berkuasa atas segala
Camkan ini para penggadai jiwa manusia!
Senjata kecilmu bukanlah apa-apa
Algojomu sia-sia belaka
Menangpun kau bukan siapa-siapa
Lagipula mana ada manusia yang tega
Rakus melahap bangkai saudaranya
Apalagi merasa paling digdaya
Lupa akan siapa yang mencipta
Lalu, sudahkah kini kau rasa bangga?
Komentar
Posting Komentar