Kala Senja di Langit Utara
Kala Senja di Langit Utara
Kala senja di langit utara
Malu menyapa mereguk manisnya jiwa
Di malam yang dingin tanpa suara insecta
Ataupun ramai orkestra dari makhluk avertebrata
Sekelumit romansa perlahan tercipta
Sebait elegi cinta kian eksis mengudara
Saat hitam melebur bagai candramawa
Kutitipkan seulas rasa untuk Ayahanda
Sebuah rindu dan sebait doa
Setitik tangis dan sedalam-dalamnya duka
Ayahanda dan senja
Adalah dua keindahan dunia
Aku melihat sejauh jelujur arunika
Menapaki selayang pandang di relung retina
Berhiaskan kemilau magenta
Bermandikan peluh penuh asa
Masih jelas terbaca oleh ingatan rasa
Lekat merasuk dalam wangi tubuhnya
Aroma khas akasia
Yang bukan sekadar fatamorgana
Ataupun lakuna belaka
Putri kecilmu ini tidak sedang amnesia
Lantas, inikah pertanda surga?
Ayahanda, kamu dimana?
Kemelut hatiku bagai mati rasa
Ingin sekali merengkuhmu walau sehasta
Ajak aku bermain di taman nirmala
Bersama bidadari-bidadari penghuni surga
Skeptis aku terbaca terbata-bata
Seolah-olah aku tak lagi memandang raga
Parasku tak secantik barya kapila
Laju pikiranku tak seindah eunoia
Tak jua semenakjubkan jingga di kala senja
Ayahanda..
Bisakah aku melipir manja?
Mendekapmu secara tiba-tiba
Dan melepas sejuta rindu di dalam dada
Merajut kembali asa yang pernah ada
Ribuan sembagi dan harumnya kenanga
Ayahanda..
Seperti apakah itu nirwana?
Mengapa kau begitu suka berada disana
Ayahanda..
Mengapa tak kunjung bicara?
Apakah kau tak suka
Ayahanda..
Aku cinta
Hari ini dan selamanya
Kala senja di langit utara
Malu menyapa mereguk manisnya jiwa
Di malam yang dingin tanpa suara insecta
Ataupun ramai orkestra dari makhluk avertebrata
Sekelumit romansa perlahan tercipta
Sebait elegi cinta kian eksis mengudara
Saat hitam melebur bagai candramawa
Kutitipkan seulas rasa untuk Ayahanda
Sebuah rindu dan sebait doa
Setitik tangis dan sedalam-dalamnya duka
Ayahanda dan senja
Adalah dua keindahan dunia
Aku melihat sejauh jelujur arunika
Menapaki selayang pandang di relung retina
Berhiaskan kemilau magenta
Bermandikan peluh penuh asa
Masih jelas terbaca oleh ingatan rasa
Lekat merasuk dalam wangi tubuhnya
Aroma khas akasia
Yang bukan sekadar fatamorgana
Ataupun lakuna belaka
Putri kecilmu ini tidak sedang amnesia
Lantas, inikah pertanda surga?
Ayahanda, kamu dimana?
Kemelut hatiku bagai mati rasa
Ingin sekali merengkuhmu walau sehasta
Ajak aku bermain di taman nirmala
Bersama bidadari-bidadari penghuni surga
Skeptis aku terbaca terbata-bata
Seolah-olah aku tak lagi memandang raga
Parasku tak secantik barya kapila
Laju pikiranku tak seindah eunoia
Tak jua semenakjubkan jingga di kala senja
Ayahanda..
Bisakah aku melipir manja?
Mendekapmu secara tiba-tiba
Dan melepas sejuta rindu di dalam dada
Merajut kembali asa yang pernah ada
Ribuan sembagi dan harumnya kenanga
Ayahanda..
Seperti apakah itu nirwana?
Mengapa kau begitu suka berada disana
Ayahanda..
Mengapa tak kunjung bicara?
Apakah kau tak suka
Ayahanda..
Aku cinta
Hari ini dan selamanya
Komentar
Posting Komentar