Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Bocah Kecil di Tengah Konflik

Bocah Kecil di Tengah Konflik Apakabar sayangku? Lama kau buatku terbelenggu dalam pekat ayumu Lama kuikuti setiap perdebatanmu sejauh bisa kutangkap Mengadopsi setiap tutur kata gayamu bercakap Memperbudakku dalam romansa cinta penuh semiotika Yang ternyata hanya pandaimu saja beretorika Berkaca pada fasad transparan namun nyatanya gelap Memercik elegi air namun kosong getaran Begitukah cara candu menggerogoti inangnya? Begitukah indah cinta membuat insan kerap mengenangnya? Manisnya rasa mengutuk hati menjadi fakir Dan asmara ini memang tidak sehat kupikir Jika ditelisik Penuh rasa sakit fisik Meringankan sedetik namun sadis membunuh tanpa dikritik Tanpa ampun Menjelma bak sejumput narasi beracun Menjejal pangkal tenggorokan dengan rakus Nadiku untungnya hanya tergores sedikit tak sampai putus Tapi caramu menahanku sungguh menyiksa Mengibas tiap luka yang keranjingan tersiram cuka Rambut malaikatmu kejam mengikatku Menekan ujung lidahku yang terus saja kelu ...

Jam Ke-25

Jam Ke-25 By: Dewi Yuliani Islamiyah Hai, Dunia.. Bagaimana kabarmu hari ini? Lama tak bersua, lama kita tak sanding berdua kukira Aku seolah lari dari fakta bahwa kita tengah saling bermusuhan Melakoni peran sebagai si bijak dan si durjana Berpura-pura.. Bermain drama klasik bak aktor laga Bukan.. Maksudku bukan kita! Tapi hanya aku, aku yang terus saja mengumpatmu dalam sanubariku Aku yang terus saja bergidik geli melihat caramu memperlakukanku Tempo hari kau menghujaniku dengan jutaan luka dan derita Sadis memang.. Hai, Dunia.. Bagaimana kabarmu hari ini? Rasanya jiwaku sedikit tertahan pada desahan jam pasir tua Suara gemericiknya menikamku bagai racikan racun Menjejal kerongkonganku dengan trik-trik gila Memaksaku mencerna sebuah fenomena baru yang lebih mirip anomali Mustahil nalarku akan sampai sekalipun secanggih mesin terminator Sesuatu ini telah hadir sebagai representatif nyata dari kesempatan kedua Sedikit menyakitkan seperti duri, namun melegakan sep...

Kala Senja di Langit Utara

Kala Senja di Langit Utara Kala senja di langit utara Malu menyapa mereguk manisnya jiwa Di malam yang dingin tanpa suara insecta Ataupun ramai orkestra dari makhluk avertebrata Sekelumit romansa perlahan tercipta Sebait elegi cinta kian eksis mengudara Saat hitam melebur bagai candramawa Kutitipkan seulas rasa untuk Ayahanda Sebuah rindu dan sebait doa Setitik tangis dan sedalam-dalamnya duka Ayahanda dan senja Adalah dua keindahan dunia Aku melihat sejauh jelujur arunika Menapaki selayang pandang di relung retina Berhiaskan kemilau magenta Bermandikan peluh penuh asa Masih jelas terbaca oleh ingatan rasa Lekat merasuk dalam wangi tubuhnya Aroma khas akasia Yang bukan sekadar fatamorgana Ataupun lakuna belaka Putri kecilmu ini tidak sedang amnesia Lantas, inikah pertanda surga? Ayahanda, kamu dimana? Kemelut hatiku bagai mati rasa Ingin sekali merengkuhmu walau sehasta Ajak aku bermain di taman nirmala Bersama bidadari-bidadari penghuni surga Skepti...

Lakuna di Tanah Arunika

Lakuna di Tanah Arunika Sekelumit narasi di kala senja Tentang nyanyian bisu tanpa suara Terbungkus rapi dalam balutan rasa Tanpa irama hanya lakuna Hai Manusia.. Sudahkah mendengar tentang arunika? Saat dimana matahari terbit dengan indahnya Menjadi sama rasa dengan swastamita Hitam yang menenggelamkan jingga Gelap yang menafikan senja Pudarnya tak serta merta mematikan raga Redupnya cahaya tak jua mampu mengikis jiwa Pekat matanya seakan bertanya Mengapa sungguh kejam dunia? Berulang kali hati telah patah Berulang kali pikiran telah gundah Namun asa tak kunjung ingin menyerah Katanya, “Kita ini belum kalah” Di pelupuk kota tua nan mulai memerah Api terekam merasuk mata yang kian resah Atau dakota-dakota yang berdarah-darah Dan jutaan sumpah serapah Dari serdadu-serdadu payah Memborbardir bumi dengan murah Di medan perang terangkai wasilah Ujung jari mungil mengukir risalah Jemu meracun walau tak sengaja bersalah Hai, Manusia-manusia serakah! Tak cuku...