Bocah Kecil di Tengah Konflik
Bocah Kecil di Tengah Konflik
Apakabar sayangku?
Lama kau buatku terbelenggu dalam pekat ayumu
Lama kuikuti setiap perdebatanmu sejauh bisa kutangkap
Mengadopsi setiap tutur kata gayamu bercakap
Memperbudakku dalam romansa cinta penuh semiotika
Yang ternyata hanya pandaimu saja beretorika
Berkaca pada fasad transparan namun nyatanya gelap
Memercik elegi air namun kosong getaran
Begitukah cara candu menggerogoti inangnya?
Begitukah indah cinta membuat insan kerap mengenangnya?
Manisnya rasa mengutuk hati menjadi fakir
Dan asmara ini memang tidak sehat kupikir
Jika ditelisik
Penuh rasa sakit fisik
Meringankan sedetik namun sadis membunuh tanpa dikritik
Tanpa ampun
Menjelma bak sejumput narasi beracun
Menjejal pangkal tenggorokan dengan rakus
Nadiku untungnya hanya tergores sedikit tak sampai putus
Tapi caramu menahanku sungguh menyiksa
Mengibas tiap luka yang keranjingan tersiram cuka
Rambut malaikatmu kejam mengikatku
Menekan ujung lidahku yang terus saja kelu dan terpaku
Nafasmu seperti bayi suci
Lambang cinta dewa dewi
Aku takluk ingin terus menghirupmu
Dan meneguk wangi tubuhmu
Aroma khas akasia yang memabukkan raga
Menggetarkan tiap jiwa
Aku telah terjebak dalam ikatan tak bisa kulepas
Aku telah terkungkung dalam keranji tak bisa keluar
Aku tertahan pada jeruji benang kenikmatan
Terjejal oleh derasnya tendensi mencintai
Tisu putih telah bermandikan darah
Hijau daun telah gugur memerah
Anak kecil yang manis terjebak dalam dunia penuh intrik
Mati rasa..
Kecewa..
Depresif dan ugal-ugalan..
Dalam benaknya..
Terbang ke neraka tak apa
Asal bisa singkirkan godaan jari lima
Yang benar-benar buatku sakit jiwa
Yang lancang mendikte kisah
Yang mahir mengkotak-kotakkan sumpah
Yang setiap saat mengusik
Menyebutku sebagai bocah kecil di tengah konflik
Surakarta, 17 Mei 2019
Apakabar sayangku?
Lama kau buatku terbelenggu dalam pekat ayumu
Lama kuikuti setiap perdebatanmu sejauh bisa kutangkap
Mengadopsi setiap tutur kata gayamu bercakap
Memperbudakku dalam romansa cinta penuh semiotika
Yang ternyata hanya pandaimu saja beretorika
Berkaca pada fasad transparan namun nyatanya gelap
Memercik elegi air namun kosong getaran
Begitukah cara candu menggerogoti inangnya?
Begitukah indah cinta membuat insan kerap mengenangnya?
Manisnya rasa mengutuk hati menjadi fakir
Dan asmara ini memang tidak sehat kupikir
Jika ditelisik
Penuh rasa sakit fisik
Meringankan sedetik namun sadis membunuh tanpa dikritik
Tanpa ampun
Menjelma bak sejumput narasi beracun
Menjejal pangkal tenggorokan dengan rakus
Nadiku untungnya hanya tergores sedikit tak sampai putus
Tapi caramu menahanku sungguh menyiksa
Mengibas tiap luka yang keranjingan tersiram cuka
Rambut malaikatmu kejam mengikatku
Menekan ujung lidahku yang terus saja kelu dan terpaku
Nafasmu seperti bayi suci
Lambang cinta dewa dewi
Aku takluk ingin terus menghirupmu
Dan meneguk wangi tubuhmu
Aroma khas akasia yang memabukkan raga
Menggetarkan tiap jiwa
Aku telah terjebak dalam ikatan tak bisa kulepas
Aku telah terkungkung dalam keranji tak bisa keluar
Aku tertahan pada jeruji benang kenikmatan
Terjejal oleh derasnya tendensi mencintai
Tisu putih telah bermandikan darah
Hijau daun telah gugur memerah
Anak kecil yang manis terjebak dalam dunia penuh intrik
Mati rasa..
Kecewa..
Depresif dan ugal-ugalan..
Dalam benaknya..
Terbang ke neraka tak apa
Asal bisa singkirkan godaan jari lima
Yang benar-benar buatku sakit jiwa
Yang lancang mendikte kisah
Yang mahir mengkotak-kotakkan sumpah
Yang setiap saat mengusik
Menyebutku sebagai bocah kecil di tengah konflik
Surakarta, 17 Mei 2019
Komentar
Posting Komentar