Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Insan yang Pernah Memenuhi Diri, Terima kasih..

Insan yang pernah memenuhi diri Terima kasih,   Sekalian aku ingin berpesan.. Nikmatilah kala menjadi istimewa. Nikmati selagi masih bisa Jika masa itu telah usai maka kamu tak akan bisa Mengecap manisnya walaupun hanya untuk sesaat Tidak bisa memintanya walaupun dengan mengemis Tidak untuk semenit ataupun sedetik. Menunggu bukan pilihan Menunggu tidak akan berhasil Sebab waktu tidak mengenal kata iba Berjalan gagah seperti ksatria Berlari kencang seperti kuda Waktu tidak bisa kembali seperti halnya harapan orang-orang bodoh yang pupus Kini saatnya aku membebaskan belenggu Ibarat seekor burung Aku lebih memilih tertembak dan kemudian mati Ketimbang selamanya harus terkurung dalam sangkar Apa yang sudah terlewat tidak lagi mampu digenggam Apa saja yang telah disia-siakan akan pergi dengan sendirinya Kutub magnet yang telah melangkah sejauh angkasa Meraba permukaan dimensi perasaan Ternyata tidak ada lagi yang tersisa Hati yang pernah untukmu kini telah ber...

"Mengecup Ladang Gandum" Mencicip Manisnya Telaga Pengetahuan

"Mengecup Ladang Gandum" Membuka kerahmu perlahan Aku datang dan menapaki setiap inci dirimu Menabrak dengan lembut Menatap penuh rasa kekaguman Harta karun yang ada dihadapanku Indah tanpa cela Kuning langsat dengan aroma akasia Halus tanpa cacat Seakan datang dari Surga tanpa perantara Sore hari dengan segelas teh manis Duduk bersandar pada kursi tua Aku membukanya dengan malu-malu namun tiada ragu Mencicipi perlahan ladang gandum ilmu pengetahuan Yang jarang terjamah orang Jendela dunia yang sering digadang-gadang Yang langka tersentuh tangan Lembaran wangi dengan tinta hitam Hitam yang menghiasi setiap sudut ruangan Membungkus deretan Alfabet dengan mesra Besar kecil berpadu dengan damai Ratusan bahkan ribuan halaman tak akan cukup untukku Habiskan waktu bersamamu Seakan mabuk karena meneguk anggur Pikiranku telah terisi olehmu Engkau memenuhi diriku dengan dirimu Perlahan-lahan semakin dalam Tajam menghantam tanpa permisi ataupun basa basi ...

"Pembual Payah" sungguh payah..

"Pembual Payah" Permainan yang tak pernah kau mulai Semenit saja tidak Hanya belum Permainan yang tak bisa kau akhiri Sedetik pun tidak Pasti tidak Senyuman mistis menyiratkan segala hal Kau menulis dengan pena biru Jejakmu menorehkan sejarah Tentang sebuah permainan Membuatmu basah dan berkeringat Alis yang berkerut-kerut memendam segala rahasia Kau menoleh ke kiri dan ke kanan Mencari jawaban Kemana perginya si kucing dan si kelinci Pembual payah tidak akan pernah bisa lari Pembual payah sedang panik Pembual payah mulai tak sadarkan diri Pembual payah telah tenggelam Hanyut dalam emosi Suara yang tiba-tiba menjadi parau Berat dan tertahan sesuatu Lepaskan saja Apa yang menjadi bebanmu Teteskan saja Apa yang ada dalam hatimu

"PERAK" Sebuah tulisan untuk Jeno

PERAK Cahaya matahari melintasi celah jendela yang terbuka Dalam bening dagingnya yang tertembus mentari pagi Kulihat pembuluh darahnya yang merah terbayang nyata Bercabang-cabang membentuk pola Seperti ranting-ranting kecil di balik kulit telinga Perak bulunya membalut mewah Kelucuan, keluguan terpancar dari mata bulatnya Bola matanya mengandung batu emerald hijau Tajam mengawasi di kegelapan Malam hari ia berlari Memanjat pagi hari dengan kaki-kaki kecilnya Halus bulunya melebihi sutra Ceria wajahnya menyambut setiap mata Bila lelah, ia merangkak naik dan tertidur dalam pangkuan Bermimpi indah di tengah asingnya dunia Aku menjadi yang terdekat dan terjauh baginya Yang kutawarkan hanyalah rasa kasih sayang Kulit yang tak lagi mulus ketika bersamanya Ia mencabik dengan rasa sayang Dan aku menyukainya Lembayungku di kala senja, teruslah berada disampingku Tubuh perakmu adalah pemuas dahagaku Mengelus dan memelukmu setiap pagi adalah bahagiaku Jeno-yaa..

"Dunia adalah Neraka"

“Dunia adalah Neraka” Pemurung sejati Tidak bergeming pergi dan tetap merajai diri Ingin rasanya beranjak dari tempatku berdiri Kini hanya ada aku bersama kamboja putih Harumnya tajam menusuki jantung ini Untuk apa sebenarnya aku kemari? Bukannya tanpa esensi Jasad bernyawa ini hanya ingin menggapai tempat yang sepi Lelah semakin menjadi-jadi Hidup seakan tak ada arti Terkadang hati kurasa sepi Aku tidak mampu menikam hari malah diriku sendiri Nur yang tak kunjung kembali Aku menanti dalam gelapnya pagi Hitamkan asa dan terus berlari menjauhi matahari Membakar diri melukai hati Meratapi pati Mati yang tak kunjung menghampiri diri

Panggung Hitam

“Panggung Hitam” Kuhentakkan pedal kuat-kuat Mama, ini menyakitkan Orang-orang memujaku dengan teriakan menyeramkan Aloato.. Aolato.. Aoalto.. Hanya itu yang kudengar Terkadang lambat tiba-tiba cepat Mereka tertawa bahagia Aku juga sama Memang seperti itu aku ingin mereka mengira Di tempatku berdiri terasa panas Tanganku perih namun sinar gitar tak bisa memainkan dirinya sendiri Mama, di sini penuh cahaya kuning-kemerahan menyilaukan Aku bergerak maju mundur dan semakin dalam Tiada tempat sembunyi dari apa yang ada di depan dan belakangku