Profesi Guru Menurut Saya : The Man Who Inspired Me

Wkwk... Balik lagi nih. Aku mau ngeshare dikit nih tentang apasih makna profesi guru menurut pendapat pribadiku. Kenapa juga harus guru? Hehehe. Fyi aja nih yaa.  Sebenarnya ini tuh tugas kuliah. Wkwk. Nah, daripada kepoo. . Mending baca dulu dah. ... SELAMAT MENGAPRESIASI. .😊😊😊
Siapin tissu yaa... Soalnya dalem banget ini tulisan sampe-sampe bisa nusuk ke hati. Ah lebay.

Profesi Guru Menurut Saya..


Hal pertama yang saya ingat ketika mendengar kata “guru” adalah ayah saya sendiri. Kenapa? Karena Beliau dulunya juga berprofesi sebagai seorang guru, tepatnya guru honorer. Beliau sudah meninggal sejak saya masih kecil. Itu sangat menyedihkan. Tapi, saya menulis tulisan ini bukan untuk mengingat-ingat masa lalu yang pedih. Ketika menulis, saya hanya ingin jujur tentang apa yang saya rasakan. Saya menulis tulisan ini dengan tujuan untuk membagikan pengalaman hidup yang saya pikir telah membentuk pemikiran saya tentang definisi sebenarnya dari “guru”, tentang arti dari seorang guru bagi kehidupan saya. 
Ada banyak hal yang saya pikirkan dan saya sendiri bingung harus mulai membahasnya darimana. Ada banyak hal baik dan keteladanan dari profesi seorang guru. Tapi, yang pertama bagi saya, profesi guru itu adalah tentang bagaimana seseorang belajar tentang keikhlasan. Saya tidak tahu berapa gaji yang diterima oleh ayah saya waktu itu, tetapi kemungkinan tidak banyak. Saya juga tidak tahu ada berapa banyak murid yang membangkang dan tidak patuh pada beliau waktu itu, tetapi setahu saya memang ada.

 Setiap hari beliau berangkat bekerja, mengajar, dan mendidik murid-muridnya yang duduk di bangku SMK. Saya yang dulu masih seusia anak-anak biasanya senang bermain di sekitar area sekolah tempat ayah saya bekerja . Bukannya tanpa alasan saya bermain di sekitar tempat itu. Saya, ayah saya, dan ibu saya dulu memang tinggal di area sekolah. Tepatnya, kami tinggal di sebuah ruangan kecil bekas gudang komputer sekolah. Saya tidak tahu mengapa dulu kami tinggal di ruangan itu, saya tidak pernah menanyakannya. 
Dulu, saya biasa bermain dengan teman-teman saya, yaitu permainan petak umpet. Bila bosan, saya biasanya menyusul ayah saya sedang mengajar di kelas. Saya tidak pernah menyusul hingga masuk  ke ruang kelas karena ayah saya bilang itu tidak boleh. Terkadang, saya menangis karena hal itu. Dan bila sudah begitu, maka ayah saya akan meminta izin kepada murid-muridnya untuk keluar sebentar dan membawa saya kepada ibu saya. Saat itu, bukan berarti ibu saya tidak mau menjaga saya atau bermain dengan saya, tapi saya paham dengan kesibukannya berjualan di kantin sekolah untuk sekedar menambah penghasilan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Jadi, saya sudah terbiasa bermain sendiri.

 Setelah kejadian itu, saya dinasihati oleh ayah saya bahwa masuk ke ruang kelas ketika beliau sedang mengajar adalah hal yang tidak sopan. Beliau berkata bahwa saya adalah anak baik. Dan bagi beliau, anak yang baik adalah anak yang mau mendengarkan dan tidak mengulangi kesalahan. Setelah dinasihati seperti itu, saya tidak pernah lagi masuk ke ruang kelas ketika beliau sedang bekerja. Saya biasanya menunggu di luar kelas dan terkadang mengintip dari balik celah pintu kelas. Kulihat beliau banyak sekali bicara dan berjalan menghampiri murid-muridnya, membangunkan yang asyik tertidur dan menegur yang sibuk sendiri. Meskipun demikian, beliau tidak marah, tidak akan pernah. Beliau juga menulis di papan tulis hitam, banyak sekali huruf dan angka yang harus ditulis, kemudian dihapus dan ditulis lagi. Tangannya penuh dengan kapur putih, bajunya juga tak luput, wajahnya berkeringat bercampur dengan debu kapur. 

Setelah pelajaran usai dan semua murid telah keluar dari kelas, baru kemudian beliau ikut keluar. Kemudian seperti biasanya, beliau menggendong saya di atas pundaknya karena tangan kanannya mungkin lelah menulis, sedangkan tangan yang satunya sibuk membawa tas hitam berisi buku  pelajaran yang sepertinya memang sangat berat. Saya bertanya kepadanya apakah dia lelah dan dia bilang “iya”. Saya bilang padanya bahwa saya ingin turun dan berjalan sendiri, tapi beliau melarangnya. Saya bilang padanya bahwa saya tidak mau menjadi guru karena itu pasti akan sangat melelahkan seperti yang kulihat pada dirinya saat itu. 

Kemudian, beliau bicara banyak hal bahwa tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan. Semua pekerjaan  itu melelahkan. Lalu, saya bilang padanya bahwa itu artinya setiap saat kita harus terus-menerus bersabar dengan rasa lelah itu. Beliau bilang “tidak”. Kata beliau, “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah ikhlas. Bila kita sudah ikhlas, maka rasa sabar itu dengan sendirinya akan ada dalam diri kita. Ini bukan tentang seberapa banyak kita akan memperoleh uang. Ini juga bukan tentang seberapa banyak pujian yang kita terima. Ini tentang keikhlasan. Apapun pekerjaan kita, kita harus melakukan yang terbaik dan menjalankannya dengan ikhlas serta penuh dengan rasa tanggung jawab.” 
Kemudian, saya mulai mengerti apa maksud dari ucapan beliau. Mungkin waktu itu saya belum mengerti sepenuhnya, tapi sekarang sudah. Saya selalu mengingat apa yang dia sampaikan pada saya, mengingat segala ucapannya, bahkan segala hal. Saya sangat mengagumi beliau. Waktu itu saya memang hanya seorang anak kecil, tapi bukan berarti saya tidak mengerti sama sekali. Saya selalu mendengarkannya. Di akhir hidupnya, beliau berpesan kepada saya agar saya menjadi anak yang baik dan saya tidak boleh menjadi anak nakal. Hanya itu pesannya, tidak ada yang lain.

Dari beliau saya belajar definisi sebenarnya tentang profesi seorang guru. Bagi saya, profesi guru adalah profesi yang sangat mulia, profesi luar biasa yang dilandasi dengan rasa ikhlas, kesabaran, tanggung jawab dan pengabdian penuh hingga akhir hayat. Definisi itu saya dapatkan dari hasil mengamati ayah saya sendiri. Semua hal baik tentang profesi guru saya dapatkan darinya, dari setiap motivasi yang dia berikan kepada saya. Hingga saat ini, dia adalah guru yang tidak tergantikan bagi murid-muridnya di SMK dulu, maupun di mata rekan-rekan sesama guru di sekolah. Di hari kematiannya, hampir semua muridnya di SMK, guru-guru dan bahkan para alumni yang pernah diajar dan dididik oleh beliau datang untuk memberikan penghormatan terakhir dan melaksanakan sholat jenazah bersama. Saya tidak tahu berapa jumlahnya, tapi mereka sangat banyak dan berdesak-desakkan. 

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengungkapkan bahwa saya mungkin tidak seberuntung murid-muridnya dulu yang pernah merasakan diajar dan dididik oleh beliau di ruang kelas, tidak pula cukup beruntung untuk sekedar dibantu dalam mengerjakan PR sekolah karena dia sudah lebih dulu pergi sebelum saya sempat merasakan bangku sekolah. Tetapi apapun itu, sampai sekarang beliau adalah guru favorit saya. Suatu saat saya juga ingin menjadi seperti beliau dan tentunya harus lebih baik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAGENTA: Sandi

SERENGETI DAN RAGDOLL

Baca Sekali Gak Bakal Paham Deh..