My First Shortstory: La d'Cendol Resto (Sebuah Cerpen Kontemporer)




Uhuk... Aku mau sedikit berbagi pengalaman saat pertama kalinya aku nulis cerpen. Sebenarnya ini tugas mata pelakaran Bahasa Indonesia waktu aku SMA dulu. Ceritanya sih aku mau bikin cerpen kontemporer. . Ceritanya sih gituu..

Menurutmu gimana? Masuk gak? Baca dulu dah daripada penasaran. Siapin obat sakit kepala ya sebelum baca ini.. wkwkwk😂😂😂


Judul : La d’Cendol Resto


Jevera Elpida ialah namaku, seorang putri cantik yang berasal dari Kerajaan Costaluna. Hidupku seketika berubah ketika seorang Nenek tua mengirimku keluar dari Castil yang indah ini, karena aku tak bisa bersikap baik kepadanya. 

Seperti dugaanku, dia membawaku ke sebuah tempat yang paling terkutuk diantara tempat lainnya. Sebuah toko kecil di sudut kota Metropolitan, yaitu La d’Cendol Resto,  tempat dimana para pangeran dan putri yang suka usil dan jahil dihukum. Yah, dunia manusia.

Dia mengutukku dan membiarkan aku menderita berada di tempat asing ini, kemudian dia pergi tanpa perasaan bersalah. Huft, Nenek tua yang menyebalkan.

“Ini hari terburukku.. Ah.. Pergi kalian dari sini!”
“Benarkah itu kau, Willbeda? Kau juga berada di sini rupanya. Hahaha”
“Kau jangan menertawakanku, Jevera. Kau juga akan sepertiku nantinya.”
“Hah? Kapan? Hahaha. Kau lebih buruk dariku, Willbeda. Nasibmu jelek sangat ternyata.”
“Tidak  lama lagi kau akan merasakannya.” 
Ya, temanku Willbeda memang benar, seorang pelayan menyiramku dengan kuah santan.
“Sudah kubilangkan.”
“Huft.. Payah,  kurasa ini bagian terburuknya berada di tempat ini.”
“Kurasa belum.”
“Maksudmu?”

Ya, Willbeda benar lagi, sekarang pelayan itu memasukkan satu ton cendol ke dalam gelasku, maksudku mungkin hanya beberapa gram saja, tapi aku kan sedang dalam keadaan seperti ini. Dan mungkin setelah ini aku akan terkena penyakit Diabetes karena berenang di air gula.

“Kurasa itu bagian terburukmu.”
“Lepaskan aku! Dasar pelayan jahat! Willbeda, cepat tolong aku! Keluarkan aku dari gelas kaca ini, aku tak dapat bernafas lebih lama lagi.Cendol-cendol ini membuatku jijik dan gulanya membuat kulitku lengket dan gatal-gatal. Apalagi santannya yang pecah ini seperti tai yang mengapung.”
“Diamlah, Jevera! Kau pikir aku tidak tersiksa dengan semua buah-buahan ini, melon-melon ini membuat dadaku sesak dan nanas-nanas yang tajam ini sewaktu-waktu dapat mengancam nyawaku.”
“Tapi Willbeda, setidaknya kau tidak merasakan lengket disekujur tubuhmu. Aaaah… ! Jauhkan aku dari cendol terkutuk ini!”
“Jangan berisik! Kau mau pelayan itu datang lagi dan melemparkan bongkahan-bongkahan es batu raksasa ke dalam gelas kita? Masih untung pembeli bolak-balik ke kamar mandi sehingga tidak sempat untuk mencicipi kita.”

Willbeda benar, jangan bertindak bodoh yang dapat mengakibatkan pelayan datang. Aku tak akan sanggup melihat bibir pembeli itu menganga dan menyaksikan ribuan kuman di dalamnya, juga air liur mereka yang sangat menjijikkan baunya. Untuk membersihkan tubuhku ini mungkin butuh waktu tiga minggu lamanya.

Aku tak habis pikir dengan sendok yang disana itu, pasti kulitnya terbakar ketika bersentuhan dengan sambal ekstra pedas level 19, apalagi ketika pembeli menenggelamkannya ke dalam kuah sop buntut yang baru saja mendidih, kemudian pulang tanpa mengeluarkannya dari kawah panas itu.

“Hei Willbeda, kau tau tidak siapa sebenarnya sendok itu?”
“Oh, dia yang disana itu adalah pangeran Aristides Argus Bell, putra terbaik yang tampan dan berhati mulia dari kerajaan Yunani.”
“Tampan dan berhati mulia katamu? Lalu kenapa dia berada disini?”
“Huft, kamu ini.Tentu saja demi menyelamatkan adik laki-lakinya, pangeran Jonea Wid Bell yang dikenal sombong dan keras kepala. Dan sebagai gantinya, Nenek tua membawanya kesini untuk menjalani hukuman.”
“Baik sekali ya dia.”
“Sudah pasti.”
“Hei Sendok..! Iya kamu. Kau tak apa-apa? Apa kau tidak merasakan sakit?”
“Tentu saja sakit sekali, tapi ini takdirku.”
“Lucu sekali kau bilang begitu. Hahahaha.”
“Jangan terlalu banyak tertawa Nona  cantik. Orang yang paling banyak tertawa adalah orang yang  nantinya paling banyak menangis.”
“Rupanya kau begitu arif ya, pangeran Aristides?”
“Aku, pangeran Aristides  akan selalu melindungi keluargaku. Bagiku, darah lebih kental dari apapun.”
“Ok,ok. Tapi, bukankah sangat menyakitkan? Apalagi setelah ini kau harus dicuci dan pegawai restoran akan menggosok tubuhmu yang berlumuran lemak itu dengan sangat kasar. Kau tak takut?”
“Tidak akan, aku sudah terbiasa dengan sakit ini.Bahkan, bila seribu belati menancap ditubuhku, aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, aku mati rasa. Sudahlah! Pelayan itu akan datang dan mengambilku juga piring-piring di meja ini. Selamat tinggal.”

Benar juga apa yang dikatakannya, tapi tetap saja sulit bagiku untuk menerima penghinaan ini, aku adalah putri cantik dari Costaluna. Tapi apa daya? Sekarang aku hanyalah sebuah sedotan plastik, hanyalah benda sekali pakai dan hidupku akan berakhir di tempat sampah. Oh Tuhan? Betapa sombongnya diriku hingga tak sudi menerima hukuman ini? Maafkan aku.
“Willbeda, sudahlah. Mungkin ini memang jalan hidup kita, kita harus terima ini. Oh tidak! Dimana temanku Willbeda? Oh tidak! Pembeli itu sudah meminum habis es buahnya dan temanku Willbeda sudah tamat riwayatnya.Oh tidak! Pembeli itu mengangkat gelasku, baiklah aku akan terima semua ini. Aku sudah siap! Aku sudah siap! Aku sudah siap sekarang!.................................................................”
“Siap untuk apa?”
Pyaar, suara cempreng yang khas dari temanku, Bella, membuyarkan lamunanku ini, padahal sedang seru-serunya.
“Hei Nggi, kau melamun ya? Dasar tukang ngelamun! Cepat kau habiskan es cendolnya! Es buahku saja sudah ludes dari tadi. Sini, buat aku saja kalau kamu nggak mau.”
“Eh.. Jangan pakai sedotan!”
“Lho memangnya kenapa?”
“Ehmm, nggak jadi, abaikan saja. Lanjutkan acara minummu.”
“Kamu ini aneh sekali.”
“Eh, iya.”

Dan  inilah faktanya, mengejutkan bukan? Ternyata aku bukan putri Jevera ataupun sedotan plastik. Ok, aku harus menghilangkan kebiasaan melamunku ini, Karena bukan tidak mungkin aku bisa saja kesambet.

_TAMAT_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAGENTA: Sandi

SERENGETI DAN RAGDOLL

Baca Sekali Gak Bakal Paham Deh..