MAGENTA: Son of The Sun

  MAGENTA: Son of The Sun

Kala itu mentari cukup terang namun tetap meneduhkan. Awan putih di awal hari masih memudar sehingga birunya langit menampakkan saturasi nan kuat. Pagi yang mulai menghangat seiring jatuhnya embun sisa-sisa hujan semalam. Dedaunan berwarna hijau neon megar kembali, atap bagi laba-laba yang membangun sarangnya di sela-sela batang yang rendah tanpa cabang. Hmmm... 7 tahun berlalu, Aku lupa saat itu sedang musim apa, karena alam sulit sekali ditebak seperti hati manusia. Terkadang hujan jatuh di saat kemarau, seperti halnya hati jatuh pada siapa yang tak pernah disangka-sangka dan di waktu yang tidak terduga pula. Ckckck.

Hari itu tidak terlalu panas tapi sangat cerah, matahari sedang indah-indahnya. Entah itu hari Rabu atau Kamis, aku benar-benar tidak dapat mengingatnya, tapi yang jelas itu bukan Senin atau Selasa apalagi Jumat. Jelas kutahu karena kita sedang tidak memakai putih biru atau pramuka, melainkan motif kotak-kotak krem dengan gradasi tiga warna. Seragam identitas kebanggaan kami yang membedakannya dari sekolah lain. Sekolah kami yang tak jauh dari pertigaan jalan serta diapit oleh dua sekolah lainnya. Cukup populer walaupun bukan yang menjadi nomor satu di kota kami. Tempat yang cukup strategis tapi tidak terlalu ramai ataupun bising. Tempat yang nyaman dengan lahan yang luas dan hijau serta berbagai kisah menarik di dalamnya semakin menambah memori indah masa remaja yang tak dapat diulang kembali.

Tahun 2012, Aku memasuki tahun ketiga tingkat sekolah menengah pertama yang terasa cukup melelahkan. Segala persiapan menuju ujian nasional mati-matian disiapkan oleh pihak sekolah demi suksesnya kelulusan para muridnya. Jam tambahan pagi dan sore kuikuti dengan baik tanpa membolos walaupun terkadang tidak semua kujalani dengan pikiran yang fokus. Aku hanya berusaha rajin dan mengikuti sistem dengan baik. Karena terlalu tertib, mungkin orang akan mengatakan aku spesialisasi golongan darah A yang terkenal dengan sifatnya yang rapi dan teratur. Ckck. Aku sebenarnya adalah orang yang sedikit percaya tentang kepribadian berdasarkan golongan darah. Hanya sedikit. But, I’m not A person. I’m B. B yang menawan hati. Ah, tidak juga.

Kadang bosan juga.. Berada di dalam kelas menunggu jam tambahan dimulai. Aku dan teman-temanku biasanya mengobrol santai tentang apa saja. Waktu itu gawai belum secanggih sekarang, atau lebih tepatnya hanya dimiliki oleh beberapa orang. Telepon hanya bisa untuk menelpon dan berkirim pesan via pulsa, akses internet didapat dengan cara pergi ke warnet. Tahun-tahun itu warnet sedang ramai-ramainya buka. Kadang harus sampai mengantri. Pengunjungnya bermacam-macam, mulai dari anak kecil, remaja seusiaku bahkan orang tua paruh baya. Semua asik menatap layar kaca yang dibatasi oleh sekat-sekat pemisah bilik demi menjaga privasi. Sayangnya kala itu warnet bukan tempat yang ramah bagi paru-paru. Setiap hari ada yang datang, duduk dan online ria sambil sebat. Jika batang rokok sudah habis dihisap, puntungnya dibuang di asbak yang letaknya tepat di samping komputer. Asapnya yang abu-abu seperti awan seringkali mengepul naik mencapai bilik-bilik tetangga, adapula yang masuk melalui celah-celah yang dapat dicapai udara. Surga bagi yang menghisap dan neraka bagi orang lain yang menghirup asapnya. Sedikit pedih dan tajam menusuk sampai membuat batuk-batuk. Ckckck. Paru-paruku waktu itu mungkin saja sedang menangis.

Ya, tapi mau bagaimana lagi tidak ada pilihan lain. Kita bisa memilih tempat, tapi tidak bisa secara mutlak mengatur siapa saja yang berhak datang. Lagi pula kita hanya penyewa 5 ribu rupiah per 2 jam, seribu rupiah lebih murah jika dibandingkan warnet lainnya.. Ya, Warnet langgananku.. paling murah dan paling dekat dengan sekolah kala itu. Aku melakukan kegiatan yang amat  biasa, bermain media sosial facebook, melihat youtube, dan sekaligus lembur mengerjakan tugas di sana. Warnet sudah seperti rumah kedua. Ya, warnet kecil dengan huruf depan “M” yang letaknya di depan portal dengan bilik-bilik kecilnya terkadang beraroma rokok akibat ulah pengunjung adalah sebuah memorabilia yang akan selalu terkenang. Orang-orang dan setiap suasana yang ada di sana akan menjadi jejak kehidupan baik jejak manual maupun digital. Hahaha... Di sanalah untuk pertamakali sebuah akun facebook bernama “Dewi Zizher” menyapa dunia. Walaupun awkward, I think it’s better bila dibandingkan dengan “Bla bla bla MaaniezZt Abiezzt” atau “Bla bla CelaluuUe ZhettiyaA ChELamanyAahH ChamaA KaAOmEeh”. Ckckck. Teringat jelas saat itu, remaja perempuan mana yang tidak tahu Justin Bieber. Demam Justin Bieber merebak ke seluruh dunia. Tidak ada yang tidak tahu JB, sapaan akrabnya. Bocah remaja inspiratif kelahiran 1 Maret 1994 asal Canada yang muncul sebagai Superstar dunia dan menjelma sebagai “boyfriend material” bagi remaja perempuan kebanyakan. “Zizher” yang merupakan sebuah kata plesetan dari “Bieber”, sebuah kreativitas yang lazim dilakukan oleh para fans di masa lalu maupun sekarang.

Ya.. itu tadi penjelasan yang menurutku sudah cukup detail menggambarkan kesibukanku kala itu. Memang bukan kehidupan yang terlalu menarik, cenderung biasa seperti kebanyakan orang kala itu.

Kembali ke cerita, jadi pagi itu di tahun 2012 artinya usiaku masih 13 tahun. Cukup muda bila dibandingkan dengan teman-teman sekelasku yang terpaut satu atau dua tahun lebih tua di atasku. Hahaha. Sebenarnya aku yang termuda. Maknae!

Ah.. iya.. jadi pagi itu adalah pagi yang sangat indah.. pagi yang tidak terlalu pagi.. pagi menjelang siang. Pagi yang menghangatkan jiwa yang layu. Mungkin sekitar jam 9.15 atau 9.30. Jam istirahat kelas biasanya aku semangat ke kantin. Tapi kala itu kelas terlalu nyaman. Aku menunda waktu untuk ke kantin 5 menitan lebih sambil menunggu teman-teman yang lain juga. Sekitar setengah waktu dari jam istirahat mungkin telah terlewat artinya aku hanya punya sedikit waktu untuk ke kantin. “Ahh.. sebaiknya aku minta dibungkus saja nanti gorengannya di plastik tidak lupa dengan kecap dan saos di atasnya. Biasanya juga begitu, daripada nanti telat ikut jam pelajaran.” Pikirku dalam hati. Tapi, nyatanya aku dan teman-temanku tidak beranjak juga dari ruang kelas.

Setelah beberapa menit, akhirnya aku dan beberapa teman perempuanku  melangkahkan kaki keluar kelas kami, 9A. Kelas yang “katanya” favorit, baik di kalangan guru maupun kelas-kelas yang lain. “Katanya” berisi orang-orang pintar semua. Tapi itu hanya katanya. Fakta yang sebenarnya adalah kelas kami isinya orang-orang rajin, walaupun tidak semua juga. Ah.. Entahlah lagi pula itu hanya “’katanya”.

Walaupun sebentar lagi bel tanda masuk pelajaran akan berdering tapi kami memutuskan untuk tetap pergi ke kantin. Jaraknya cukup jauh, walaupun hanya tinggal lurus dan kemudian belok kiri. Rutenya adalah dari kelas kami kemudian lurus melewati 3 kelas lain dan kamar mandi kemudian menuruni beberapa anak tangga untuk mencapai halaman, melewati Masjid masih lurus mentok parkiran dan kemudian belok kiri. Nah, disitulah kantin sekolah berjejer. Ada soto dan jajanan kriuk-kriuk dan masih banyak lagi. Tapi favoritku adalah soto dari kantin yang paling barat, walaupun teman-temanku bilang kantin disampingnya sotonya lebih enak. Hmmm.. namanya juga selera. Siapa yang bisa memaksa?

Kami berjalan biasa. Sangat biasa, tidak jua menaikkan kecepatan berjalan seakan tidak peduli dengan waktu. Kami hanya tidak terburu-buru. Prinsipnya telat sedikit tidak apa-apa. Yang penting telat! Ah.. ini sungguh receh. Aku tidak bisa melucu lewat ketikan tulisan. Tapi, jika kita bertemu langsung mungkin bisa.

Derap langkah sepatu hitam dengan tali yang juga hitam bergesekan dengan lantai yang lumayan berdebu sekalipun pagi harinya sudah disapu oleh siswa siswi sesuai jadwal piketnya. Tapi ya tetap saja itu berdebu, tidak perlu sampai menggunakan cara ibu-ibu dalam mengetes bersih tidaknya seseorang membersihkan benda-benda di rumah. Maksudku tidak perlu sampai menyentuhkan jarimu ke permukaan benda tersebut hanya untuk mengetahui ada tidaknya debu yang menempel di jari-jarimu. Itu sebenarnya terlalu berlebihan. Ya, setidaknya menurutku begitu.

Aku dan teman-temanku. Kami sekitar 5 atau 6 orang. Lorong kelas menuju kamar mandi cukup sempit jadi gerombolan kami terbagi menjadi dua baris. Aku berjalan di posisi depan dan paling tengah, disamping kanan dan kiriku masing-masing ada satu orang teman perempuan. Dalam posisi berjalan seperti itu, aku sudah seperti “Bos Geng” saja. Hahaha.

Satu kelas kami lewati, kemudian dua kelas, hingga sampai pada kelas ketiga juga telah kami lewati. Hanya berjalan biasa dan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang spesial. Kita terus menyusuri lorong untuk menuju tangga di dekat kamar mandi sekolah. Untuk sampai ke kantin kita harus menuruni tangga tersebut menuju halaman bawah. Paling-paling hanya 10 anak tangga dengan jarak yang tidak terlalu tinggi. Maksudku, itu tidak melelahkan.

Aku dan teman-temanku terus berjalan ke arah tangga hingga kepala tidak lagi terlindungi oleh atap sekolah. Baru dua langkah kaki menapak, terasa serangan sinar matahari pagi yang tiba-tiba mengenai kepala dan wajah kami. Aku sedikit terkejut dan reflek memejamkan mata sepersekian detik sambil menundukkan wajahku.

DAAAANNNNN.... 

Inilah inti dari tulisan ini yang sebenarnya. Bukan hanya tentang tulisan. Tapi ini adalah tentang hari yang masih kuingat bahkan lebih dari 7 tahun pasca kejadian. Hari yang indah dan memesona. Bisa dibilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Lebih tepatnya terpesona. Sangat. Padahal sejatinya aku jarang terpesona. Berarti ini memang luar biasa.

Perlahan aku membuka kedua mataku dan mengangkat wajahku perlahan. Terlihat segerombolan anak laki-laki berjalan menaiki tangga mungkin mereka sehabis dari kantin. Tapi ada satu hal.. Maksudku seseorang yang berbeda. Lebih tepatnya istimewa.

Dia.. Seseorang itu.. berada di baris paling belakang dari gerombolan anak laki-laki yang berjalan. Cahaya matahari mengenai wajahnya yang putih menyusuri celah-celah rambut yang hitam dengan gaya koma. Cahaya matahari timur menyinari hidungnya yang mancung dari sisi sebelah kiri membuat sisi kanan wajahnya membentuk bayangan yang indah. Garis dahi dan rahang yang tegas. Mata yang tajam memikat tanpa terpejam alih-alih takut dengan sang surya. Bibir merah jambu sedikit kemerahan yang terbelah bagian bawahnya. Kalau kata orang Jawa “Lambene Nyigar Jambe”. Sigar berarti terbelah menjadi 2 bagian. Kata Sigar mendapat awalan “Ny” sehingga meluruh menjadi Nyigar. Jambe atau pinang, buahnya berbentuk oval, jika matang kulit buahnya berwarna kuning kemerahan. Buah jambe ini dibelah searah dengan bentuk ovalya, sehingga diperoleh belahan yang berbentuk oval. “Lambene Nyigar Jambe” artinya bentuk dan warna bibirnya sangat indah.

Tidak hanya bibir, sorot matanya yang dingin dan misterius benar-benar sangat mengesankan. Seperti putra sang Surya, ia berjalan menaiki tangga dengan penuh pesona. Ia paling bersinar dibandingkan gerombolan laki-laki di sekelilingnya, bahkan lebih terang dari sang Surya. Namun di sisi lain juga yang paling dingin. Orang-orang di sekitarnya terus mengobrolkan sesuatu seperti orang penting yang sedang membicarakan bisnis. Sedangkan dia.. yang bahkan hanya fokus berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata dari kedua bibirnya bisa sebegitunya memesona. 

Dengan langkah kaki yang lebar tapi pasti ia berjalan bak seorang putra yang sinarnya wajahnya terang seperti matahari. Kala itu waktu seakan berjalan lambat dan seperti ada efek slowmotion. Angin bertiup tanpa permisi menerpa rambutnya. Terus saja ia melangkah melewatiku melalui sisi sebelah kiriku. Ternyata dia cukup tinggi. Entahlah. Aku tidak pernah melihatnya begitupun dengan gerombolan laki-laki di sekelilingnya tadi. Mungkin bukan teman seangkatanku.

Perutku jadi tidak lapar lagi. Saat itu seperti ada kupu-kupu yang menari di perutku. Tapi aku tetap berjalan ke arah kantin bersama teman-temanku yang lain. Mereka biasa saja. Dan aku menjadi tidak biasa lagi. Sepertinya memang hanya aku yang bisa melihat keindahannya saat itu. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda.

Ia yang paling bersinar pada akhirnya lenyap jua menyusuri lorong dan aku harus tetap menuruni tangga, walaupun sudah tidak ingin makan. Jantungku juga rasanya jadi ikut menari. Orang itu sudah tidak terlihat lagi, terakhir kali yang tampak olehku adalah punggungnya. Perasaanku jadi terusik sejak saat itu, di kantin bahkan ketika sudah masuk kelas.. hal itu terus memenuhi pikiranku hingga saat pulang sekolah sambil naik sepeda, aku terus menanyakan satu hal yang sama.


SIAPAKAH DIA?



Bersambung..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAGENTA: Sandi

SERENGETI DAN RAGDOLL

Baca Sekali Gak Bakal Paham Deh..